Pelapor Dugaan Tandatangan Palsu Minta Polres Deli Serdang Percepat Proses Hukumnya

Deli Serdang – kolomnusa.com : Setelah nyaris dua tahun lamanya, korban sekaligus pelapor dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen berupa tandatangan, yang tertuang di dalam surat gantikerugian sebidang tanah, akhirnya angkat bicara, Kamis (9/7/2020).

Achyar Tambusai warga Desa Tegal Sari, Kecamatan Medan Denai, Medan, yang melaporkan dugaan tindak pidana tersebut ke Polresta Deli Serdang. Ia meminta agar aparatur penegak hukum mempercepat proses laporannya serta bertindak serius dalam mengungkap keterlibatan semua pihak yang diduga terlibat.

Dalam laporannya, Achyar Tambusai melaporkan seorang pria bernama Tarmuzi atas pemalsuan tandatangan miliknya, berkaitan dengan sebidang tanah yang terletak di Desa Tumpatan Nibung, Kecamatan Batang Kuis, Deli Serdang, sesuai dengan Surat Tanda Terima Laporan Polisi STTLP Nomor : 713/XII/2018/SU/RES DS tertanggal 5 Desember 2018 lalu.

Kepada awak media ini, Achyar Tambusai, menceritakan secara gamblang, bagaimana kronologi awal dari tindakan melawan hukum itu terjadi, hingga akhirnya ia terpaksa menempuh jalur hukum atas perkara tersebut. Ia mengatakan, tindakan pidana yang melibatkan beberapa pihak itu berkaitan dengan sebidang tanah yang dimiliki orangtuanya.

“Jadi begini pak, awalnya ada surat gantirugi sebidang tanah atas nama ayah saya Alm Muchtarudin dengan ayah Tarmuzi yaitu Alm Sabarani. Dalam surat itu, Alm Sabarani tertulis menyerahkan uang sejumlah Rp 50.000 untuk
gantirugi tanah milik ayah saya, dan saya ikut bertandatangan di dalamnya pada 7 Januari 1997, sedangkan saya tidak pernah merasa menandatangani surat itu,” kata Achyar Tambusai.

Masih Achyar Tambusai, selain merasa tidak pernah mengetahui terlebih-lebih menandatangani surat, ia juga melihat banyak keganjilan dari surat tersebut. Salahsatunya dibuat dan ditandatangani di Kota Medan, serta tidak adanya alamat yang jelas dari tanah yang ingin digantirugikan.

“Terus, selain saya tidak tahu dan tidak pernah tandatangan di surat itu, surat itu juga dibuat di Medan dan tidak ada alamat dari tanah mana yang digantirugi oleh Alm Sabarani ayah dari Tarmuzi itu, kalau begitu tanah mana yang mereka mau gantirugikan, ini kan tidak jelas,” ungkapnya.

Pelapor Dugaan Tandatangan Palsu Minta Polres Deli Serdang Percepat Proses Hukumnya2
Foto : A : SP2HP dari pihak kepolisian Polresta Deli Serdang, atas laporan Achyar Tambusai. B : Surat Ganti Rugi sebidang tanah yang Tanda tangan Ahyar Tambusai dinyatakan palsu oleh PusLabFor Polri Cabang Medan

Pembuktian tandatangan Palsu

Untuk membuktikan ia samasekali tidak pernah bertandatangan di surat gantirugi itu, Achyar Tambusai akhirnya melapor ke pihak berwajib. Dari hasil pemeriksaan pihak kepolisian melalui Pusat Laboratorium Forensik Polri Cabang Medan, diketahui bahwa tandatangan yang terbubuh di dokumen tersebut adalah palsu atau tidak benar.

Kepalsuan tandatangan milik Achyar Tambusai di surat yang menjadi alas hak bagi Tarmuzi untuk mengklaim kepemilikan ataupun penguasaan sebidang tanah milik Muchtarudin itu, sesuai dengan Surat Puslabfor Polri Cabang Medan Nomor 13678/DTF/2019 tertanggal 18 Februari 2020.

“Surat gantirugi itu jelas-jelas palsu, sudah diperiksa oleh Labfor Polisi, dan dinyatakan surat palsu. Artinya, surat itu tidak bisa dijadikan alas hak atas tanah milik orang tua saya. Oleh sebab itu, saya mohon kepada pak Kapolres Deli Serdang, untuk segera mengungkap kasus ini dan juga menetapkan pelakunya serta yang terlibat sebagai tersangka,” ucap Achyar Tambusai.

Keterlibatan beberapa pihak

Berkaitan dengan dugaan pemalsuan tandatangan yang berdampak pada status kepemilikan/ penguasaan sebidang tanah milik ayah kandung dari Achyar Tambusai seluas 3184,5 m², berlanjut pada terbitnya Surat Keterangan Kepala Desa (SK Kades) Tumpatan Nibung bernomor, 592.83/08/TN/2016 tertanggal 11 Mei 2016 dan dilegalisasi oleh Camat Batang Kuis, pada masa itu.

Dari hasil investigasi dan wawancara langsung kepada mantan Camat Batang Kuis, Edi Yusuf SIP, MSi, didapat informasi kalau dirinya telah diperiksa oleh pihak kepolisian Polresta Deli Serdang, sebanyak dua kali, atas perkara
hukum tersebut.

Kepada awak media ini ia membenarkan telah melegalisasi (SK Kades) atas penguasan sebidang tanah yang diajukan oleh Tarmuzi.

“Pihak Desa bersama Tarmuzi datang menunjukkan surat segel kepemilikan atas nama orangtua pak Tarmuzi, sementara pihak Kecamatan tidak langsung menerima, kemudian datang lagi dengan surat dari keterangan kepala desa untuk memohon dan mengukur kembali dan di situlah terjadi proses dan legalisir pihak kecamatan,” ujar Edi Yusuf.

“Lalu pak Achyar Tambusai proses ke Polresta Deli Serdang, atas surat gantirugi antara orangtua kedua belah pihak. Dari hasil pemeriksaan polisi, surat segel gantirugi sebidang tanah itu ternyata palsu. Setelah itu kami pihak kecamatan dan desa dipanggil pihak kepolisian dua kali, apabila surat permohonan yang bersangkutan palsu, akibatnya pihak Tarmuzi yang mempertanggungjawabkan nya,” beber pria yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang di Diskominfo Deli Serdang itu.

Ketika awak media ini melakukan upaya konfirmasi lanjutan kepada Tarmuzi sebagai terlapor atas aduan Achyar Tambusai, di kantornya. Pria yang berstatus sebagai ASN di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sumatera Utara, itu tengah tidak berada diruangannya. Namun upaya menghubunginya tetap dilanjutkan dengan cara menelpon melalui aplikasi WhatsApp pribadi miliknya.

Dari sambungan telepon WhatsApp, awak media ini akhirnya dapat berkomunikasi dengan terlapor, meski sempat terjadi miss komunikasi dikarenakan Tarmuzi salah mengira orang yang menghubunginya, namun upaya konfirmasi tetap dilakukan awak media ini.

Dari wawancara singkat tersebut, Tarmuzi membantah segala tuduhan tindak pidana pemalsuan tandatangan yang ditujukan kepadanya dengan mengatakan sewaktu surat itu dibuat ia masih berusia 7 tahun.

“Kamu itu jangan tuduh saya melakukan pemalsuan, nanti saya tuntut kamu, kamu ini pengacara dia (Achyar Tambusai-red) ya, atau siapa? Jadi surat jual beli itu di atas segel ditandatangani oleh orangtua saya Sabarani almahrum dan orang tua pak Achyar namanya Muhammad Muchtar,” ketus Tarmuzi.

“Jadi salahsatu saksi selain kakaknya pak Achyar, itu tandatangan pak Achyar, surat itu seadanya saya terima dari orangtua saya sebelum meninggal ya emang itu, itulah yang jadi pegangan kami, dan semenjak tanah itu setahu
saya umur 7 tahun saya ikut ayah saya ikut menanam tanaman di tanah itu tak pernah mereka ini datang, tapi setelah ada pengembangan Kuala Namu, baru mereka datang,” cetusnya.

Konfirmasi pihak Kepolisian

Sebagai pihak berwajib, kepolisian Polresta Deli Serdang, telah menangani perkara ini terhitung 5 Desember 2018 lalu, sesuai dengan laporan dari Achyar Tambusai.

Namun, sampai dengan awak media ini melakukan upaya konfirmasi terakhir kepada Kasat Reskrim Polresta Deli Serdang, Kompol M. Firdaus SIK, penanganan perkara itu baru sampai ke tahap penyelidikan dan pemeriksaan
saksi-saksi dan keluarnya hasil PuslabFor Polri Cabang Medan, yang menyatakan surat gantirugi tersebut adalah palsu.

Dari hasil konfirmasi awak media ini dengan Kompol M. Firdaus SIK, melalui telepon seluler pribadinya ia memberikan jawaban, akan melakukan pengecekan atas perkara tersebut,

“Entar dulu, saya gak hapal pak, banyak kali perkara tanah, coba nanti saya cek dulu ya. Saya juga lagi di luar ini, lagi di jalan ini ada kegiatan, nanti saya kirim SP2HP-nya yang update-nya,” jawab mantan, Kanit 2 Buncil Subdit III/Jatanras Direktorat Reskrimum Polda Sumut, itu di ujung teleponnya.(J-M).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *