HUT BHAYANGKARA KE-74 POLRI: Sudah Maksimalkah Polri Dalam Mewujudkan Rastra Sewakottama ?

Oleh: Df Rangkuti, SE.
Ketua Umum PIMNAS MKFMNI

Medan – kolomnusa.com : Tak terasa Polri sudah berumur 74 tahun (saat tanggal 1 Juli 2020).Usia yang boleh dikatakan sebagai sudah matang dan sarat dengan pengalaman jika kita personifikasi dan bandingkan dengan usia manusia.Sebagai salahsatu institusi penegak hukum dengan mengalami berbagai sejarah perjuangan dan perkembangan yang dinamis dari masa ke masa.

Polri memang terus dituntut oleh negara dan rakyat Indonesia untuk tetap berbenah diri, berbenah sumber daya, berbenah institusi. Berbenah sinergi dengan institusi lain termasuk dengan TNI.
Institusi yang pernah dipimpin oleh Jendral RS Sukanto ini sejak terpisah dari ABRI berdasar Intruksi Presiden No 2 tahun 1999 (Oleh Presiden Habibi waktu itu) terus mengalami dinamika perkembangan dan kemandirian.

Selain Kepolisian, pada masa Reformasi juga banyak dibentuk lembaga baru yang bertugas untuk penegakan hukum dan pembuatan kebijakan keamanan seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (2002), Badan Narkotika Nasional (2009), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (2010), Badan Keamanan Laut (2014).

Perwira aktif Polri dapat menjabat dalam lembaga ini, baik menjadi penyidik, pejabat struktural sampai pimpinan. Lembaga-lembaga ini nantinya berkoordinasi dengan Polri sesuai tugas dan tanggungjawabnya.

Selain dari paradigma dan organisasi, sampai saat ini polisi pun berbenah perlahan-lahan mendisiplinkan dan meningkatkan integritas anggotanya. Mengingat pada masa reformasi tidak sedikit anggota Kepolisian yang terungkap ke publik melanggar kode etik profesi bahkan terjerat hukum seperti korupsi, suap, rekening gendut, narkoba, dll.

Selain kasus hukum, saling serang antara anggota Polri dan TNI di lapangan dan ketegangan antar lembaga penegak hukum masih mewarnai perjalanan reformasi Kepolisian

Marwah dan wibawa institusi kepolisian tidak bisa hanya mengandalkan Marwah dan wibawa para jendral dan komandannya saja, juga pakaian dinasnya saja, tetapi harus melibatkan semua personil dan elemen dalam kepolisian sendiri untuk tetap menjaga Marwah dan wibawa institusi Polri ini.

Sudahkah Polri Mewujudkan Rastra Sewakottama Maksimal3

Lambat laun jika tidak dibenahi institusi ini bukan saja Marwah dan wibawanya yang hilang, tetapi oleh masyarakat juga akan menjadi skeptis dan apatis terhadap institusi kepolisian.
Siapa lagi yang diharapkan masyarakat untuk mengayomi dan melindungi mereka, jika tidak institusi kepolisian.

Saat mereka mengadu dan membuat laporan bahwa mereka teraniaya dan dihadapi mereka para cukong, pengusaha, penguasa, di situlah azas keadilan itu menjadi sesuatu yang harus benar-benar menjadi pertimbangan yang matang.

Memang masih banyak polisi yang baik, tetapi, jika tidak diambil tindakan nyata, dan konsisten untuk menegakkan hukum dan disiplin bagi oknum-oknum anggota kepolisian yang melanggar kode etik, hukum dan norma-norma.

Lambat laun institusi ini akan terkontaminasi dan mengalami disintegritas.
Penulis yakin sistem remunasi, sistem teknologi, finansial, hubungan antar lembaga negara, hubungan polisi antar negara dan internasional dengan teknologi kekiniannya benar-benar jadi pertimbangan untuk terus mengalami peningkatan.

Hanya saja dari segi pembinaan SDM untuk personil kepolisian belum maksimal sehingga bermunculan oknum-oknum yang bisa merusak citra kepolisian.

Polri yang tumbuh dan berkembang dari rakyat, untuk rakyat, memang harus berinisiatif dan bertindak sebagai abdi sekaligus pelindung dan pengayom rakyat.

Harus jauh dari tindak dan sikap sebagai “penguasa”. Ternyata prinsip ini sejalan dengan paham kepolisian di semua Negara yang disebut new modern police philosophy, “Vigilant Quiescant” (kami berjaga sepanjang waktu agar masyarakat tentram).

Sebagaimana kita ketahui bahwa Tribrata pertama itu adalah Rastra Sewakottama Polri adalah Abdi Utama daripada Nusa dan Bangsa dan jika dilanjutkan dengan Tribrata pertamanya yaitu Berbakti kepada Nusa dan Bangsa dengan penuh Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dilanjutkan dengan menjungjung tinggi kebenaran dalam menegakkan hukum, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Seterusnya Senantiasa melindungi dan mengayomi dan melayani Masyarakat dengan keikhlasan untuk memujudkan keamanan dan ketertiban.

Belum lagi pengamalan isi dari Catur Prasetya yang isinya antara lain:
CATUR PRASETYA

SEBAGAI INSAN BHAYANGKARA KEHORMATAN SAYA ADALAH BERKORBAN DEMI MASYARAKAT BANGSA DAN NEGARA UNTUK :
1. MENIADAKAN SEGALA BENTUK GANGGUAN KEAMANAN

2. MENJAGA KESELAMATAN JIWA RAGA HARTA BENDA DAN HAK ASASI MANUSIA

3. MENJAMIN KEPASTIAN BERDASARKAN HUKUM

4. MEMELIHARA PERASAAN TENTERAM DAN DAMAI

Sungguh betapa mulianya jadi seorang polisi. Betapa mayarakat merindukan institusi yang benar benar bisa menjadi pengayom mereka, tetapi kadang-kadang justru masyarakat agak takut berurusan dengan kepolisian. Kadang-kadang masyarakat tak jadi melaporkan sesuatu hal yang mengusik kenyamanan nya.

Pertimbangannya tentunya banyak, antara lain banyak waktu tersita, khawatir finansial yang tidak cukup, dll.

Ini contoh saja, (mudah-mudahan bisa berubah) saat terjadi kecelakaan sesama pengguna mobil. Umumnya para pelaku akan berdebat siapa yang salah dengan mempertahankan kronogis dan logika penyebab kejadian. Masyarakat lain yang berada di lokasi akan spontan menyarankan segera diselesaikan atau berujung damai saja.

Maksudnya agar jangan sampai petugas tiba hingga keadaan antara keduabelah pihak semakin berurusan lebih panjang.

Dan ini harus kita akui sistem peradilan kita tidak hanya pihak kepolisian saja, dari mulai pengacara, kepolisian, kejaksaan, pengadilan (Pengadilan Negri, Tinggi, Mahkamah Agung). Akhirnya pihak yang bertikai benar-benar menghindar untuk tidak berhubungan dengan kepolisian dan penegak hukum lainnya.

Seharusnya masyarakat akan cepat mencari polisi jika Tribrata dan Catur Prasatya diamalkan, bukan berarti mereka harus masuk tahanan, tetapi polisi bertindak sebagai penentram dan pendamai.

“Ah, daripada tambah biaya lagi, lebih bagus hindari polisi, dst. Begitulah opini yang berkembang di masyarakat.

Adalagi pameo di masyarakat, “Janganlah sampai berurusan dengan kepolisian dan jenjang peradilannya, “arang habis besi binasa” artinya sesuatu yang nampaknya akan sia sia.

Maksud penulis mengungkapkan ini adalah rasa cinta penulis terhadap institusi kepolisian. jika memang dari Rastra Sewakottama, Tribrata, dan Catur Prasetya itu dilaksakan oleh seluruh anggota kepolisian dari pangkat Tertinggi sampai terendah mungkin pameo-pameo seperti itu perlahan lahan akan terkikis di tengah masyarakat.

Ada beberapa solusi yang bisa menjadi bahan pertimbangan kepolisian agar Rastra Swakottama, Tribrata, dan Catur Prasetya tadi bisa mendarahdagingkan nilai-nilainya untuk seluruh polisi di Indonesia.

Aplikatif dari slogan-slogan ini yang penting, bagaimana mendarahdagingkan nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya?

Itu yang penting, jika harus melalui penilaian 1-100, berapa persenkah nilai Nilai Tribrata dan CaturPrasetya diamalkan oleh seluruh anggota polisi?

Jawabannya harus 100% juga, wajib. Inilah kita sebut dalam pelatihan kami perubahan MPV (Mindet, Paradigma & Value) termasuk untuk Istri polisi (bhayangkari) dan keluarganya untuk mendukung tugas-tugas suami dalam mewujudkan Rastra Swakottama, Tribrata dan Catur Prasetya.

Bukankah hanya burung sejenis bisa terbang bersama? Oleh karena itu penulis bersam Tim Diklat Majelis Kehormatan Forum Masyarakat Nusantara Indonesia (MKFMNI) Siap bermitra untuk mewujudkan dan mendarahdagingkan nilai-nilai Rastra Sewakottama, Tribrata, dan Catur Prasetya untuk untuk seluruh polisi dan Bhayangkara, serta para Bhayangkari menuju polisi yang profesional berintegritas dan bermartabat.

Selamat Hut Bhayangkara Polri Ke-74 (1 Juli 2020)
Sesuai dengan tema tahun ini “Kamtibmas Kondusif, Masyarakat Semakin Produktif”
SEMOGA. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *